Nyunati Poci Budaya Hajatan Khas Orang Tegal


Nyunati Poci

Budaya Hajatan Khas Orang Tegal

      Dari sekian banyak kebiasaan yang akhirnya membudaya di Tegal di antaranya adalah Nyunati Poci .  Bagi orang lain ( bukan orang Tegal ) kata itu, baik didengar maupun diucapkan terasa aneh, menggelikan, lucu, atau barangkali membingungkan.Sebagai orang Tegal saya sendiri awalnya mendengar kata itu terasa bernuansa mengada-ada.  Akan tetapi demikianlah yang akhirnya meluas di masyarakat Tegal.  Setahu saya, barangkali belum ada referensi yang membahas tentang ini.  Seandainya ada itu masih langka.  Langka yang saya maksud bukan langka dialek Tegalan.  Langka/ laka dalam dialek Tegalan artinya tidak ada atau tidak dapat ditemukan, sedangkan langka yang saya maksud jarang.  Sebagai orang asli Tegal saya ingin melengkapi barangkali hal ini sudah atau pernah ditulis orang.  Siapa tahu di kemudian hari bermanfaat bagi orang lain, sekali gus ikut mengenalkan budaya Tegalan pada orang lain.  Namun dalam membahas masalah ini, tidak saya sampaikan secara ilmiah mengingat sumber yang saya dapatkan secara lisan ketika saya masih usia belasan tahun.  Barangkali suatu saat nanti saya dapat menulisnya dalam bentuk yang lebih lengkap. 

      Saya lahir dan hidup di Tegal, namun untuk alasan tertentu saya tidak menyebut desa dan RT/Rw di mana saya tinggal dan untuk menghindari hal yang kurang berkenan dalam membahas Nyunati Poci, saya tidak menyebut tempat secara jelas.    

      Untuk membahas Nyunati Poci akan dibahas beberapa hal yang merupakan ikhwal munculnya Nyunati Poci.  Yaitu Orang Mlastar, Grompol, Nyunati Poci.

 

Orang Mlastar

 

      Tentang orang mlastar sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya pada Tegal Bukan Tegel, Orang Tegal Tidak Tegelan. Untuk menjadi orang mlastar tidak dapat dipelajari dengan teori tertentu.  Biasanya orang akan menjadi mlastar dengan sendirinya, bawaan dari sana atau karena bergaul dengan orang-orang mlastar, maka lama-lama akan menjadi orang mlastar.  Sebenarnya siapa pun dapat menjadi orang mlastar, hanya karena orang mlastar sebagian memiliki kebiasaan kurang baik, maka kesannya orang mlastar itu negatif.  Sebenarnya banyak juga orang mlastar yang kesannya positif.  Mereka ini biasanya dalam hal yang positif tidak akan tanggung-tanggung dalam berbuat.  Misalnya, jika ada orang yang perlu bantuan mereka akan memberi bantuan tanpa menghitung untung rugi.  Begitu juga jika dimintai sumbangan untuk kegiatan agama juga akan memberi seketika tanpa menimbang-nimbang. Sampai sekarang sikap mlastar masih dijalankan orang.  Hanya dalam kehidupan sehari-hari lebih tampak orang mlastar yang mempunyai kesan, maaf agak negatif. Misal gemar minum, berjudi, atau tidak taat pada agama.

Grompol

 

      Grompol diartikan berkumpul bareng untuk melakukan sesuatu kegiatan.  Grompol ini merupakan cikal bakal munculnya Nyunati Poci.  Di awal tahun 1970-an dalam perkembangannya, kata grompol mengalami pergeseran arti.  Arti yang semula berkumpul atau ngumpul-ngumpul dalam dialek Tegalan, bergeser artinya menjadi berkonotasi negatif.  Yaitu hajatan yang disertai berkumpulnya orang-orang mlastar yang gemar main kartu alias berjudi tanpa ada yang dihajati.  Setiap ada hajatan atau duwe gawe baik mantu atau khitanan mereka selalu datang, terus dilanjutkan main judi di rumah yang punya hajat.  Tuan rumah yang memperbolehkan rumahnya dijadikan tempat berjudi biasanya orang mlastar juga atau  tuan rumah yang tidak menjalankan agama.  Para penjudi orang-orang mlastar ini diberi tempat di ruangan yang tidak dapat dilihat orang dari luar atau oleh para tamu undangan.  Tuan rumah akan memperoleh keuntungan dari para penjudi yaitu berupa uang pemotongan dari taruhan setiap satu putaran permainan kartu.  Di Tegal uang semacam itu disebut cukCuk ini merupakan uang upeti dari para penjudi. Karena tuan rumah memperoleh cuk maka segala keperluan makan dan minum para penjudi ini ditanggung tuan rumah.  

      Kebiasaan hajatan dengan menyediakan tempat untuk main kartu, merupakan arena kumpul atau reuni para mlastar yang gemar main judi kartu.  Bahkan ada tuan rumah yang sengaja menyediakan tempat berjudi untuk beberapa kelompok. Pada umumnya stiap kelompok terdiri dari empat orang penjudi yang disebut satu rambuan.  Di desa tetangga desa saya, tetapi berbeda kecamatan, banyak para mlastar sehingga orang-orang mlastar dari desa lain termasuk dari desa saya sering mengadakan pertemuan di desa tersebut, bahkan ada orang-orang dari daerah lain seperti dari  wilayah kota ( lihat orang Tegal Bukan Tegel, Orang Tegal Tidak Tegelan ). 

      Karena terlalu lama menunggu untuk berkumpul jika ada orang punya hajatan ,mantu atau khitanan, akhirnya mereka membuat wadah pertemuan untuk bermain kartu.  Yaitu salah satu dari mereka dengan suka rela mengadakan hajatan tanpa harus mantu atau khitanan.  Soal biaya ditanggung tuan rumah dan uang cuk dari hasil berjudi.  Tuan rumah juga mengundang tamu undangan lain layaknya orang hajatan biasa.  Bedanya kalau hajatan biasa ada yang dikhitan atau yang dinikahkan, hajatan ini tidak ada siapa pun yang dihajati.

Hajatan para mlastar ini bergilir tempatnya karena mereka dalam bermain kartu kadang sampai satu minggu di empunya hajatan.  Maka giliran berikutnya kadang dua minggu atau satu bulan baru dimulai lagi. Hajatan semacam ini disebut grompol. Yaitu hajatannya orang-orang mlastar untuk berkumpul dan wadah bermain judi.  Grompol ini awalnya terjadi di daerah Tegal pantura. Grompol itulah yang merupakan cikal bakalnya Nyunati poci di tahun tujuh puluhan.  Sekarang sejalan dengan gencarnya kepolisian merazia perjudian dalam segala bentuk, hajatan semacam ini jarang dilakukan.  Kebiasaan berjudi para mlastar beralih ke taruahan dalam pilkades. Kegiatan hajatan ala para mlastar berubah sejak tahun tujuhpuluhan menjadi nyunati poci.

 

Nyunati Poci

      Pada tahun 1970-an, grompol memiliki kesan negatif karena dalam hajatan itu disertai arena judi.  Dalam perkembangan berikutnya mulai diikuti oleh orang biasa ( bukan orang mlastar ).  Hal ini dilakukan orang karena sangat menguntungkan dilihat dari alasan ekonomis. Dengan demikian grompol yang ini berbeda dengan grompol sebelumnya. Bedanya, grompolnya orang mlastar bertujuan untuk tempat perjudian sedangkan yang baru tidak ada orang main kartu alias judi, alasan utama adalah menarik dana dari tamu undangan.

      Awalnya orang di luar para mlastar dipandang negatif jika mengadakan hajatan ini karena tanpa ada hajat apapun mengadakan  hajatan.  Kesannya seolah-olah hanya akan mencari uang saja.

      Namun, hari demi hari orang yang mengadakan hajatan semcam ini semakin banyak. Mulanya diadakannya hajatan ini, hanya ikut-ikutan saja. Lalu bergeser menjadi hajatan yang bernuansa ekonomi.  Artinya memiliki keuntungan secara ekonomi yaitu uang.  Karena sudah mempernghitungkan uang, maka dalam segala hal dihemat termasuk dalam memberi suguhan kepada para tamu. Yang penting setelah selesai hajatan memperoleh keuntungan atau laba.  Mereka mengundang sanak saudara, teman, baik di tempat dekat maupun jauh. 

      Berikutnya semakin banyak orang mengikuti hajatan tersebut.  Bahkan akhirnya menjadi tren baru atau hajatan jenis baru.  Karena  orang yang mengadakan grompol itu mengudang para tamu bahkan kadang waktunya bersamaan dengan yang lain. Terkadang dalam satu desa dalam satu malam atau satu minggu ada dua sampai tiga orang lebih.

      Akibatnya masyarakat yang menjadi tamu ini  mulai banyak mengeluh.  Mereka merasakan tambah banyak beban untuk kondangan.  Mereka mulai agak sinis melihat orang yang mengadakan hajatan cara ini sebab dianggap mulai memberatkan, menambah anggaran untuk kondangan.  Tinggal hitung saja berapa puluh ribu rupiah  harus dikeluarkan untuk kondangan jika dalam satu hari ada dua orang hajatan dalam satu desa.  Belum lagi ditambah dari  desa lain yang mengadakan hajatan pada hari yang sama pula. Karena alasan teman atau saudara tak ada alasan untuk tidak kondangan.  Apa lagi yang sudah kepotangan, mereka wajib hadir jika diundang.  Dengan demikian masyarakat harus menanggung biaya kondangan, di samping biaya hidup sehari-hari. 

      Di desa-desa sekitar pantura, orang-orang pada ikut-ikutan menggelar hajatan ala orang mlastar.   Warga pun ada yang dalam satu hari mendapat dua sampai tiga unadangan untuk menghadiri hajatan yang dikenal grompol.  Karena merasa kesal dan agak dongkokol jika mendapat undangan semacam ini, mereka menjawab asal saja bila ditanya tetangga atau teman.  Misal si A mendapat undangan hajatan dari B lalu C bertanya pada A,“ Hajatan apa yang akan diadakan oleh B ? “ A jadi bingung untuk menjawabnya karena kebetulan dia tahu bahwa B tidak akan menghitankan anak, apa lagi mantu.  “Nyunati Poci ,“ jawab A sekenanya.  Tetangga B pun karena kesal dan merasa tidak ada dana untuk kondangan akhirnya memberi jawaban sekali gus ejekan, “ Nyunati Poci ,“ jawabnya jika ditanya orang.  Kata-kata itulah yang saya dengar saat saya berumur belasan tahun dari kakak saya yang menetap di desa tetangga.  Suatu hari dia memberitahukan kepada kakak saya yang lain bahwa dia akan mengadakan hajatan seperti yang dilakukan orang di desanya ( grompol )dan setelah saya tanyakan pada kakak saya yang lain jawabnya akan Nyunati Poci.  Saat itu saya merasakan aneh dan tak habis pikir, poci kok disunati.  Lama saya berpikir mengapa poci disunati ?  Setelah waktu yang ditentukan tiba, saya ingin sekali datang ke rumah kakak yang di sebelah utara desa saya. Jarak desa saya dengan kakak hanya dipisahkan oleh jalan raya. Kalau dihitung  jaraknya dari rumah saya kurang dari setengah kilo meter.

     Pertama kali datang,  saya masuk ruang tengah, dalam pikiran saya ada poci besar dengan cerat yang siap dipotong oleh dukun sunat, namun tidak ditemukan yang saya cari. 

     Ternyata kata `Nyunati Poci` hanya ejekan tetangga dan jawaban orang lain yang kesal karena mendapat undangan hajatan seperti itu.  Mengapa orang memakai kata poci bukan kendi atau ketel ?  Mungkin poci itu benda yang dianggap paling sering dijumpai di Tegal.  Di Tegal hampir setiap rumah memiliki poci, baik poci khas Tegal maupun poci beling. Sekarang dengan semakin sulit dan mahalnya harga poci tegalan maka yang masih poci beling atau porselin.

      Poci menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tempat air minum bercerat dibuat dari tembikar untuk menyeduh kopi, teh, dsb.  Cerat adalah bagian dari poci tempat keluar air dari poci.  Karena ujung cerat itu menyerupai alat kelamin anak laki-laki yang belum di sunat, orang berasosiasi bahwa poci dapat disunat.  Itulah kenapa orang-orang saat itu menjawab nyunati poci jika ditanya orang lain sekali gus berolok.  Nyunati Poci yang mula-mula untuk berolok atau melampiaskan kekesalan menjadi menyebar dan semakin populer.

      Setelah beberapa tahun kemudian istilah nyunati poci tidak lagi dianggap negatif .  Siapa pun orangnya tidak risi untuk menggelar hajatan ini.  Tentu bukan karena tanpa alasan.  Karena seringnya diundang dalam hajatan ini, orang yang kondangan merasa telah mengeluarkan uang banyak.  Kalau mereka harus menjadi tamu undangan terus menerus berarti tidak adil sebab mereka yang mengundang selalu dapat sumbangan dari tamu undangan. Lagi pula kalau harus menarik uang itu menunggu sampai anaknya dikhitan atau mantu terlalu lama sebab belum tentu punya anak yang siap dikhitan atau dinikahkan.  Dan pula, kalau  terlalu lama, misalnya tiga atau lima tahun kemudian baru mengadakan hajatan, orang-orang yang dulu pernah mengundang akan lupa berapa uang  kondangannya dulu dan itu berarti rugi. 

      Di Tegal, bagi sebagian orang, khususnya dari golongan ekonomi menengah ke bawah, kondangan berarti menitipkan uang meski sifatnya tidak resmi.  Orang yang pernah dikondangi berarti orang itu berhutang pada yang kondangan dalam dialek tegalan disebut kepotangan.  Suatu saat orang tersebut akan bergantian mengudang dan orang yang pernah mengundang harus datang jika gantian diundang, disebut nyaur dalam dialek tegalan.  Akibatnya dengan perhitungan secara ekonomi, bagi yang sering kondangan merasa sudah banyak uang yang diinvestasikan, maka akan segera menggelar hajatan atau nyunati poci.  Bahkan ada yang berpikir lebih baik menggelar  nyunati poci   daripada harus pinjam uang di bank atau lewat orang lain dalam jumlah besar.  Sebab hutang di bank harus memikirkan cicilan tiap bulan beserta bunganya.

      Dengan semakin berkembangnya pemikiran orang bahwa nyunati poci tidak lagi negatif dan dapat dijadikan ajang untuk mencari modal usaha atau yang lain. Orang-orang tidak merasa lagi dibebani adanya kondangan.  Mereka mulai mengerti seola-olah kondangan itu merupakan cara berinvestasi yang nantinya dapat ditarik kembali dananya di saat ada kebutuhan.  Misalnya untuk modal membuat rumah, membeli barang lain, modal usaha dan lain-lain  orang akan mengadakan hajatan tanpa harus mengkhitankan anak atau menikahkan anak.

      Waktu mengadakan hajatan pun tidak sembarang waktu, biasanya pada bulan-bulan tertentu.  Di desa seperti desa tetangga yang orangnya gemar nyunati poci, hajatan ini merupakan arisan yang tak terkordinir.  Artinya secara bergantian warga akan mengadakan hajatan.

      Syarat-syarat untuk mengadakan hajatan cara ini pun secara alami muncul yaitu harus orang yang sering/ rajin gandegan atau kondangan.  Jangan harap akan banyak tamunya jika si empunya hajat tidak pernah kondangan.

     Sampai sekarang ini tradisi nyunati poci masih dijalankan orang meskipun kadang menggunakan istilah baru yaitu muputi umah.

      Tentang muputi umah belum dapat diulas dalam tulisan ini, mudah-mudahan dalam kesempatan lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: