Kebangkitan Rasional


’’KEBANGKITAN RASIONAL’’

Catatan Khusus mengiringi Seratus Tahun Kebangkitan Nasional

Peringatan Seratus Tahun Kebangkitan

Kebangkitan Nasional telah berlalu genap seratus tahun dan gegap gempita peringatan seratus tahun Kebangkitan Nasional bulan lalu secara umum sangat mengagumkan. Tampilan beberapa kesenian melambangkan keragaman budaya yang membentuk satu kesatuan budaya Indonesia. Disusul penampilan beberapa unsur militer dan Polri semakin membangkitkan decak kekaguman kita. Semangat pemandu acaranya pun ikut membangkitkan suasana menjadi semakin riuh dan penuh berapi-api. Terasa oleh kita seolah-olah perjuangan kita sudah ‘’selesai’’.

Kalau kita hayati dengan seksama, kita akan ditunjukkan oleh penampilan kesenian itu sendiri. Yaitu masih ada sesuatu yang belum dibangkitkan. Ada celah perjuangan bangsa ini yang belum terisi. Sungguh sangat membanggakan sekali kata-kata pemandu acara yang mengatakan kesenian ini adalah milik bangsa Indonesia, bukan milik negara lain. Ucapan itu sungguh membanggakan kita, namun sebenarnya adalah ironi. Ini menunjukan bahwa kita belum bangkit secara’’rasional’’. Kita masih bangga secara tradisional.

Namun demikian bukan berarti kita selaku bangsa Indonesia belum berfikir secara rasional. Bangsa kita sudah berfikir dan bertindak rasional. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa indikator. Banyak para ahli, banyak sarjana, banyak ilmuwan, ahli strategi dan lain-lain. Itu semua menunjukkan kita bukan bangsa yang terbelakang. Tentara kita sudah cukup dan mampu untuk melindungi negara dari berbagai serangan. Kalau kita bicara ketahanan dan keamanan kita tidak meragukan lagi. Bicara pendidikan sudah banyak kebrhasilan kita di bidang ini. Ini bukti bahwa kita sudah menjadi bangsa rasional. Namun dalam beberapa hal kita masih tradisional.

Sekarang saatnya ada kebangktan babak baru, tak lain adalah Kebangkitan Rasional.

Kebangkitan Rasional

Tantangan bangsa mendatang bukan lagi rongrongan penjajahan seperti sebelum merdeka. Mendatang kita akan menghadapi penjajahan ekstra modern. Bahkan sekarang ini penjajahan dan rongrongan itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Tantangan pertama yang sekarang kita hadapi adalah kebangkitan rasional negara-negara lain, baik negara tetangga atau yang lain. Justru hal ini yang sekarang menyerang bangsa kita. Hari demi hari serangan dan serbuan itu semakin mempersempit kita dan semakin mengalahkan kita.

Tantangan kedua kita masih terkurung oleh rasa bangga secara tradisional. Kita selalu bangga dengan sikap tradisional kita. Misal inilah kesenian asli bangsa kita, inilah kerajinan asli bangsa kita. Tahu-tahu kita kecolongan, seni batik sudah menjadi milik negara lain secara rasional, meskipun secara tradisional ada di Indonesia. Tempe makanan tradisional bangsa kita, nyatanya secara rasional sudah dipatenkan oleh negara lain.

Lalu, apa yang dimaksud dengan ’’Kebangkitan Rasional’’ dalam tulisan ini? Tak lain dan tak bukan adalah sekarang sudah saatnya kita jangan hanya bangga terhadap milik bangsa kita karena itu asalnya dari budaya kita. Akan tetapi kita harus tambah kebanggaan kita dengan memikirkan hak paten semua kesenian dan kerajinan bangsa kita. Ini sangat penting. Ke depan kita akan kehilangan kebanggaan dan aset bangsa kita jika kita tidak mengusahakannya sejak sekarang.

Kita baru saja kedatangan orang paling kaya di dunia, Bill Gats namanya. Dia tampil dengan baju batik. Sekilas kita bangga, de fakto Bill Gats memakai hasil budaya bangsa kita. Akan tetapi kira-kira dalam hatinya, dia itu memakai batik Indonesia atau memakai batik negara tetangga? Mengingat hak paten batik milik negara tetangga dan sungguh sangat menyedihkan kalaudia itu tidak mengakui milik ikta, mengingat dia itu orang yang sangat rasional.

Jangan salahkan negara lain jika negara itu memiliki hak paten atas seni budaya atau karya tradisional kita. Mengapa? Karena mereka sudah berfikir secara rasional tentang segala hal. Tidak hanya seni budayanya saja. Kita kehilangan pulau beberapa tahun yang lalu. Kita kalah dalam segala hal secara rasional, sementara kita masih menggunakan cara-cara tradisional.

Hak paten atas semua kekayaan seni dan budya kita mesti kita usahakan demi generasi mendatang. Sekarang kita masih bisa membanggakan budaya kita tapi barangkali tidak mustahil sekian tahun yang akan datang generaasi kita kehilangan budaya yang asalnya dari tanah air kita karena hak patennya punya negara tetangga.

Banyak faktor yang mendukung bangsa lain yang akhirnya memiliki hak paten seni dan budaya kita, di samping dua hal yang telah disebutkan di atas. Di antaranya semakin banyaknya warga negara kita yang menjadi warga negara asing, mereka banyak yang memiliki keahlian seni budaya kita. Kemudian di negara mereka yang baru, mereka mengembangkan seni budaya tersebut. Yang lain adalah giatnya warga negara asing mempelajari seni budaya kita dan dikembangkan di negaranya. Secara tradisional kita bangga banyak orang asing mempelajari seni budaya kita, tetapi secara rasional kita kehilangan.

Semakin rasional cara pikir negara lain semakin mengancam bangsa kita. Perang sekarang bukan hanya senjata saja. Perang yang kita hadapi adalah melawan kecanggihan berpikir bangsa lain. Hari ini juga kita sudah menjadi korban dari perang itu. Barang kali negara lain sekarang sedang mencari seni dan budaya mana lagi yang akan dipatenkan menjadi miliknya? Atau pulau atau daerah mana yang akan diklim jadi miliknya. Sementara kita enak-enakan berbangga hati dengan miliknya tanpa punya hak patennya.

Kita mesti khawatir jangan-jangan warteg yang kebanggaan orang Tegal, hak patennya sedang diusahakan oleh negara tetangga. Karena warteg itu memiliki nilai ekonomi tinggi. Ini tantangan bagi kita orang Tegal dan warteger-warteger.

Hak Paten

Apa untungnya memiliki hak paten? Jelas untung. Bagi seni budaya yang mempunyai nilai wisata, otomatis akan mengundang para wisatawan dan para peneliti seni budaya karena mereka tahu hak patennya punya siapa. Mereka tidak akan berfikir aslinya dari siapa atau dari mana. Meskipun ada wisatawan dan para ahli yang tidak melihat hak paten. Akan tetapi, hak paten akan menjadi jaminan inilah pemiliknya. Ibarat kita punya sebidang tanah, tapi sertifikanya punya kita juga.

Apa susahnya mengusahakan hak paten? Tidak ada yang susah kalau kita mau. Kita Bisa, Indonesia Bisa, seperti yang diikrarkan Bapak Presiden dalam peringatan seratus tahun kebangkitan nasional.

Kita kadang lupa memikirkan hak paten seni budaya daerah dibandingkan hal lain. Apa itu? Ada daerah yang dapat membiayai sepak bola dengan milyaran bahkan triyunan rupiah. Akan tetapi pernahkan daerah itu memikirkan hak paten seni budaya daerah itu yang sebenarnya mengangkat dan memberi kontribusi kepada daerah itu sendiri. ( Maaf bukan anti sepak bola, saya juga gemar nonton sepak bola ) Dibanding membiayai sepak bola, mengusahakan hak paten lebih ringan biayanya. Biaya sepak bola setiap tahun dan hasilnya tidak signifikan dengan biaya yang dikeluarkan. Biaya hak paten hanya sekali atau untuk kurun waktu tertentu,tetapi kontribusinya sangat tinggi buat daerah itu.

Barangkali ini suatu pendapat yang dapat dipertimbangkan untuk seluruh daerah yang memiliki seni dan budaya yang sangat unik dan memiliki nilai jual wisata atau mengundang orang asing untuk mempelajarinya. Mengapa daerah tersebut tidak merintis untuk mengusahakan hak paten dengan dana dari APBD? Atau menggali dana-dana lain hasil kerja sama dengan perusahaan yang meiliki kepedulian untuk melindungi aset bangsa berupa seni dan budaya. Jangan hanya sepek bola saja yang disubsidi dengan dana-dana daerah yang hasilnya barang kali hanya memuaskan pejabatnya saja.

Memang di beberapa daerah banyak pejabat yang gandrung pada sepak bola, tetapi tidak gandrung dengan seni dan budaya khas daerah tersebut yang sebenarnya punya nilai wisata tinggi.

Seorang pejabat memback up sebuah klub sepak bola di daerahnya itu sudah biasa diberitakan di koran, tetapi kalau seorang pejabat mempelopori sebuah hak paten untuk seni budaya di daerahnya, belum pernah ada beritanya. Ini fakta.

Ada setitik kegembiraan. Itu pun sudah tak tampak lagi, sekarang. Sebuah perusahaan jamu terkenal yang mengaku di dalam iklannya orang pintar yang memakai produk tersebut, telah beriklan dengan latar belakang beberapa budaya daerah. Meski dalam iklan tersebut sedikit mengangkat budaya yang jadi latar iklannya, akan tetapi belum cukup untuk dijadikan bahawa perusahaan tersebut sangat peduli seni budaya. Ibarat anak sekolah nilainya belum mencapai enam, apa lagi nilai 8, atau 9. Sebab dalam iklan tersebut baru sebatas ngomong bahwa budaya ini milik bangsa kita bukan milik negara tetangga. Atau baru mampu ngomong budaya ini asli Indonesia bukan milik negara tetangga.

Alangkah dahsyatnya. Alngkah hebatnya. Alangkah hebohnya kalau iklan itu berbunyi, ’’Seni Tardisional ini asli Indonesia dan PT anu telah mendaftarkan hak patennnya untuk bangsa Indonesia.’’ Mungkin setelah iklan itu disiarkan ke seluruh Indonesia akan dapat sambutan yang sangat dahsyat. Kemudian perusahaan atau PT anu, anu yang lain akan mengikuti jejaknya. Kemudian pemerintah daerah di mana seni atau budaya tersebut berada akan memberi penghargaan kepada perusahan tersebut. Alngkah bangganya kita sebagai banngsa jika itu terjadi sekarang.

Lalu, apa lagi yang akan terjadi? Yaitu semua bidang akan membangkitkan rasional kita. Di perbatasan negara tetangga kita tidak akan ada kabar, kita kecolongan patok batas negara. Atau kabar adanya telah dibangunnya helipad. Kita tidak akan kehilangan sebuah pulau karena pulau tersebut berpindah hak akibat kita tidak punya data rasional, hanya punya data tradisional. Tapi apakah segala urusan kita harus rasional? Jawabnya tentu ada wilayah-wilayah di mana kita harus rasional dan ada wilayah-wilayah yang tidak dapat kita pakai rasional. Apa itu kita pakai rasional kita?

Mari, mulai hari ini kita kumandangkan kebangkitan rasional. Lebih-lebih sekarang ini sedang ramai pilkada. Para cabub dan cagub pikirkan kembali iklan anda, jangan buang uang milyaran yang akhirnya anda tidak dapat apa-apa. Tapi daftarkan hak paten seni atau budaya atau aset khas daerah di mana anda mencalonkan diri. Baru setelah itu anda beriklan bahwa anda telah mempetenkan seni budaya untuk daerah di mana anda mencalonkan diri, pasti rakyat akan mendukung anda dan jangan lupa kalau anda jadi sisihkan uang dari pemda anda untuk mendaftarkan hak paten yang lainnya.

3 Tanggapan

  1. maz zaenal yang bener bukan kebangkitan rasional tapi kebangkrutan rasional nasional he…he…he

  2. Pak mau beli laptop kisaran 5jt-6jt yang bgus ap?

    • maaf saya tidak dapat menjelaskan di sini. langsung saja nanti kalau ketemu dengan saya langsung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: